Langsung ke konten utama

'Negeri 5 Menara' dalam Naungan Langit Al-A'raaf

Folder itu udah lama ada, cuma entah kenapa baru malam ini dibuka. Pilah-pilih, akhirnya, "Negeri 5 Menara". Perjalanan dimulai. Raga tetap pada tempatnya, tapi hati dan pikiran jangan ditanya entah kemana. #tssaah
Cerita tentang Alif. Alif yang mau lanjut SMA di Bandung. Alif yang mau lanjut kuliah di ITB. Alif ya Alif. Belakangan Alif harus mengubur mimpinya. Ibunya meminta Alif buat lanjut sekolah di tanah jawa, di pondok madani, di pesantren. Bukan untuk kepentingan ibunya, bukan untuk itu, bukan, tapi untuk kepentingan ummat.

Meski berat, Alif bergerak. 

Alif diterima. Dipertemukanlah dia dengan lima sosok anak laki-laki lainnya. Latar belakang budaya berbeda tak menyurutkan niat mereka untuk menjalin tali saudara, tak menyurutkan semangat mereka untuk bersama-sama merangkai asa. Di bawah kaki menara yang menjulang, Alif dan ke-lima kawannya mulai meraba mimpi. Menerka masa depan. Lewat segumpal awan. 

Oh Amerika...
Oh Afrika...
Oh Eropa...
Oh Indonesia...

Kehidupan sederhana telah membawa Alif dan ke-lima rekannya menjadi anak laki-laki yang tidak biasa. Di saat yang lain diam bahkan mengeluh, mereka bergerak menuju perubahan, mereka bergerak merangkul. Mengajak. Membangkitkan.

Man Jadda Wa Jada !

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti dapat. Tapi jangan menyalahartikan "Man Jadda Wa Jada". Mungkin, itu yang dirasakan Alif ketika waktu mulai mengantar dia pada jalan bercabang. Antara tetap berada di pondok atau melangkah meninggalkannya menuju Bandung sana. Antara mendapat keinginan atau meninggalkan apa yang telah ia miliki.

Dengan segala keyakinan, akhirnya Alif tetap berada di tempat. Hingga waktu mengantar mereka menuju awannya masing-masing. Menuju benuanya masing-masing. Dan persaudaraan itu masih ada, nyata, hangat terasa. Dan mereka telah menunjukkan....apa itu kesungguhan. Kisah itu mengingatkan saya pada satu keluarga. Keluarga yang diantaranya tidak ada ikatan darah, melainkan ukhuwah. Keluarga yang disatukan oleh sentuhan-sentuhan Sang Maha Cinta. FOSMA.

Ingat mimpi di kertas itu, di kaleng itu, di tanah itu. 
Terinjak, tergesek, terbentur. Terkena panas lalu diguyur hujan.
Biar mereka hilang, berubah bentuk hingga tak berwujud.
Aku yakin...kalian masih punya salinannya...kita punya.
Disini, di dalam hati ini.

Gunakan waktu yang tersisa untuk memperbaiki kesungguhan kita.
Kesungguhan sebenar-benar kesungguhan. 

Sampai bertemu di bawah langit Al-A'raaf.
Salam 2020 !

*agak lebay sih tapi gimana lagi yak -.-v

Komentar