Langsung ke konten utama

Golput Bisa Jadi Kaya, Apa Iya ?


Minggu lalu saya survei lapangan untuk tugas mata kuliah Ekologi Pangan dan Gizi ke daerah Tambak Lorok, semacam kampung nelayan di daerah Semarang. Saya perhatikan, jumlah pamflet partai dan para calon legislatif banyak bertebaran disini. Lebih banyak dibanding jalan-jalan besar yang sebelumnya saya lewati. Bahkan, lebih banyak dibanding yang bertebaran di sepanjang jalan menuju kampus. #MulaiMikir

Tapi, tujuan utama saya kesana kan bukan mau menikmati 'warna-warni janji'. Jadi, saya langsung menghapus pikiran-pikiran yang kebanyakan negatif itu deh. Saya dan dua orang teman yang lain segera nyari narasumber daripada keburu kepanasan. Eh, kepanasan disini maksudnya karena emang disana beneran terik banget, bukan 'panas' dalam arti yang lain. #MulaiMikir

Kita mulai beraksi ketika berhasil nemuin seorang ibu pembuat terasi. "Bu, ini lagi buat apa ? Siapa yang biasa mesen ? Dimana dapat bahan bakunya ? Butuh waktu berapa hari dari mulai ngeringin ikan sampai akhirnya jadi terasi ?" Ya selayaknya wawancara lah. Kebetulan ibunya lagi pakai kaos partai, terus kayaknya ibunya bosen gitu ditanyain soal terasi (sok tau), saya ganti aja topik pertanyaannya, "Bu, banyak caleg yang suka kesini ? Biasanya mereka ngapain ?". #MulaiMikir

Untung ibunya terbuka. Beliau bilang, cuma ada beberapa caleg yang suka kesana. Mengudarakan janji-janji. Kalau nggak dikasih (tebak sendiri) juga nggak bakal nyempetin dateng, wong kerjaan masih banyak. Kaos juga lumayan lah buat gunta-ganti. "Suara itu kan mahal, mba." Kata Ibunya sambil mesam-mesem. #MulaiMikir

-----

X  : Kalau suara itu mahal, berarti golput aja bisa jadi kaya, ya ?
: Kenapa ?
X  : Kan rajin menabung.
Y  : Terus, kenapa ada orang yang masih mau ngasih suaranya kalau begitu ?
X  : Mungkin mereka mau ‘sedekah’ buat bangsa Indonesia.
Y  : *tepok jidat*

Komentar