Langsung ke konten utama

Senyum di Bumi Rantau

Dalam sebuah forum, seorang teman berkisah tentang adik kelas perempuannya yang sangat ramah. Keramahan membuat dia disayangi penduduk bumi rantau. Bayangkan, pernah ada seorang laki-laki yang meminta alamat kos si adik ke tukang laundry langganannya. Kenapa ? Karena, si laki-laki pernah secara tidak sengaja di-senyum-i si adik. Bahkan, si adik pernah ditawari nasi goreng gratis oleh sesama pembeli (laki-laki) karena melihat wajahnya yang ramah. Syukurlah si adik menolak segala maksud lelaki bergelagat tersebut #ModusEverywhere.

Source : http://images2.fanpop.com
Ada pula kisah tentang seorang mahasiswi perantau yang 'dingin' dan jarang tersenyum. Dalam hidup si Perempuan tidak kenal basa-basi dan di-cap terlalu jujur oleh orang yang suka basa-basi. Pernah suatu ketika ia ditunjuk sebagai Koordinator seksi Komdis pada acara Leadership Training tingkat Dasar di Fakultas (biasa disebut Tim Disiplin Khusus yakni sesorang yang mendapat label 'antagonis' di hati peserta). Namun naas, ada kegiatan hari Pra dimana si Perempuan tidak diijinkan 'menghadapi' peserta. Kenapa ? Karena, seksi Acara mengatakan mereka tidak ingin peserta merasa tercekam, terintimidasi, dan lain sebagainya. Semacam Comic yang dilarang tampil Stand Up Comedy karena dia terlalu lucu.

Kawan, betapa senyum menjadi sangat berharga di bumi rantau ini. Untuk itu, silahkan baca tulisan yang saya temukan di dakwatuna.com. terkait rahasia senyum.

Sebagian manusia ketika berbicara tentang senyuman, mengaitkan dengan pengaruh psikologis terhadap orang yang tersenyum. Mengkaitkannya boleh-boleh saja, yang oleh kebanyakan orang boleh jadi sepakat akan hal itu. Namun, seorang muslim memandang hal ini dengan kaca mata lain, yaitu kaca mata ibadah, bahwa tersenyum adalah bagian dari mencontoh Nabi saw. yang disunnahkan dan bernilai ibadah. Pakar dari kalangan muslim maupun non muslim melihat seuntai senyuman sangat besar pengaruhnya. 

Dale Carnegie dalam bukunya yang terkenal, “Bagaimana Anda Mendapatkan Teman dan Mempengaruhi Manusia” menceritakan: 

“Wajah merupakan cermin yang tepat bagi perasaan hati seseorang. Wajah yang ceria, penuh senyuman alami, senyum tulus adalah sebaik-baik sarana memperoleh teman dan kerja sama dengan pihak lain. Senyum lebih berharga dibanding sebuah pemberian yang dihadiahkan seorang pria. Dan lebih menarik dari lipstik dan bedak yang menempel di wajah seorang wanita. Senyum bukti cinta tulus dan persahabatan yang murni.”

Ia melanjutkan, “Saya minta setiap mahasiswa saya untuk tersenyum kepada orang tertentu sekali setiap pekannya. Salah seorang mahasiswa datang bertemu dengan pedagang, ia berkata kepadanya, “Saya pilih tersenyum kepada istriku, ia tidak tau sama sekali perihal ini. Hasilnya adalah saya menemukan kebahagiaan baru yang sebelumnya tidak saya rasakan sepanjang akhir tahun-tahun ini. Yang demikian menjadikan saya senang tersenyum setiap kali bertemu dengan orang. Setiap orang membalas penghormatan kepada saya dan bersegera melaksanakan khidmat -pelayanan- kepada saya. Karena itu saya merasakan hidup lebih ceria dan lebih mudah.”

Kegembiraan meluap ketika Carnegie menambahkan, “Ingatlah, bahwa senyum tidak membutuhkan biaya sedikitpun, bahkan membawa dampak yang luar biasa. Tidak akan menjadi miskin orang yang memberinya, justeru akan menambah kaya bagi orang yang mendapatkannya. Senyum juga tidak memerlukan waktu yang bertele-tele, namun membekas kekal dalam ingatan sampai akhir hayat. Tidak ada seorang fakir yang tidak memilikinya, dan tidak ada seorang kaya pun yang tidak membutuhkannya.”

Berbahagialah orang yang dikaruniai kemurahan senyum. Terlepas dari apa yang akan ia dapatkan setelahnya, entah itu nasi goreng atau laundry gratis. Juga berbahagialah orang yang masih pelit senyum. Karena, kamu telah memudahkan teman-temanmu dalam menentukan sie 'antagonis' yang diperlukan dalam suatu kepanitiaan. Namun, jangan bahagia berlarut-larut karena pelit senyummu bisa membuka celah prasangka bagi orang yang melihatnya. Kamu sudah cukup dewasa untuk memilih mau jadi penyebab atau peredam prasangka, jeng :)

Diriwayatkan At-Tirmidzi, Al-Husein Radliyallahu’anhu, cucu Rasulullah SAW menuturkan keluhuran budi pekerti beliau. Ia berkata, "Aku bertanya kepada Ayahku tentang adab dan etika Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau. Ayahku menuturkan, ‘Beliau Shallahu ‘alaihi wa Sallam senantiasa tersenyum, berbudi pekerti lagi rendah hati, beliau bukanlah seorang yang kasar, tidak suka berteriak-teriak, bukan tukang cela, tidak suka mencela makanan yang tidak disukainya. Siapa saja mengharapkan pasti tidak akan kecewa dan siapa saja yang memenuhi undangannya pasti akan senantiasa puas…..” (Riwayat At-Tirmidzi)

-----

X : Ternyata, untuk kenal Y pertemuan pertama aja nggak cukup.
Y : Ha ?
X : Iya. Harus pertemuan yang kedua, yang ketiga, yang keempat. Baru tau, ternyata orangnya begini :D
Y : Ahahahahahaha -.-"

Komentar

Posting Komentar