Sesungguhnya kepo itu kadang jadi obat ketika lagi 'capek' sama Tembalang dan seisinya. Misal, hasil kepo kita menunjukkan kalau si X ini ternyata baru dinobatkan lolos jadi peserta PIMNAS mengalahkan ratusan bahkan ribuan mahasiswa lainnya. Si Y ternyata sekarang lagi menjalankan bisnis jilbab. Si Z ternyata sekarang jadi berhijab. Mengetahui apa yang telah mereka capai terkadang membuat saya sadar kalau saya, pokoknya, harus berubah semakin baik dari waktu ke waktunya. Jangan mau kalah, paling tidak, sama diri saya yang dulu, yang mungkin pernah lebih baik daripada hari ini. Itu namanya rugi. Berarti saya harus buru-buru sadar keburu saya 'gulung tikar'. #JanganCumaWacanaJeng!
Nah, kalau gitu kan berarti kepo-nya jadi bermartabat. Hehe
Nah, kalau gitu kan berarti kepo-nya jadi bermartabat. Hehe
Sampai saat ini saya masih suka buka soft file buku tahunan. Suka terharu kalau lihat kolom "1O Tahun Kemudian" yang kami tulis. Ada yang nulis jadi dokter tapi nyatanya sekarang kuliah jurusan komputer. Ada yang nulis "Menjadi istri yang sholehah dari suami dokter atau diplomat". Ada juga yang nulis "Bahagia dunia akhirat". Kalau kamu sendiri nulis apa, jeng ? Saya nulis, "Jurnalis jujur yang aktif membantu masyarakat dalam bidang kesehatan :D, aamiin…". Gaya bener yee.
Jadi, tema postingan kali ini sebenarnya mau tentang "1O Tahun Kemudian" yang saya tulis di buku tahunan :)
Alhamdulillah setelah saya ditolak Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip lewat jalur tulis, saya diijinkan masuk lewat jalur mandirinya ‒tapi tenang saya nggak akan cerita panjang lebar soal 'penolakan untuk penerimaan' itu hehe‒. Disana, selain Rohis, saya milih gabung dengan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) tingkat fakultas dan alhamdulillah setelah melalui beberapa tahap saya diijinkan gabung, khususnya dengan sub divisi buletin.
Kami ngelakuin reportase untuk kemudian ditulis dan disebarluaskan dalam bentuk buletin. Karena ada dalam lingkup kesehatan pasti beritanya seputar isu kesehatan. Meski pada kenyataannya, kami juga banyak bahas 'kebijakan dan bala tentaranya'. Kebetulan untuk buletin edisi pertama, saya diamanahi sama Redaktur Pelaksana Buletin buat nulis rubrik Fokus Utama, tentang kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Undip, khususnya FKM. Wah saya yang masih mahasiswa baru ragu, apa saya bisa nulis sebanyak 7500 karakter tentang KTR ? Apa kualitas tulisan saya berbanding lurus dengan kuantitasnya ? Apa tulisan saya nanti sesuai dengan yang disampaikan narasumber dan diharapkan pembaca minimal Redaktur Pelaksana saya ? Saya coba.
Semua harus ditulis. Apa pun. Jangan takut tidak dibaca atau tidak diterima penerbit. Yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna. ‒Pramoedya Ananta Toer
Buletin pertama keluar. Saya masih ingat komentar dari Wakil Pemimpin Umum LPM tempat saya bernaung. Eyang, begitu kami memanggilnya, nanya ke saya di bunderan depan ruang klinik berhenti merokok, "Ini artikel apa puisi ?". Eyang senyam-senyum baca tulisan pertama saya. Jujur saya bersyukur mendapat kritik karena bisa jadi bahan perbaikan. Edisi selanjutnya saya mulai merubah gaya menulis, tapi tetap, masih saja ada yang bilang kalau tulisan saya masih sama. Saya jadi sadar, betapa nulis berita itu nggak mudah, apalagi buat saya yang lebih sering nulis fiksi. Redaktur Pelaksana saya waktu itu menghibur dengan gini, "Yaudah, emang gaya menulis orang kan beda-beda. Karakternya beda-beda. Mungkin itu bisa jadi ciri khas.". Kalimat itu sedikit melegakan dan saya terus berupaya meminimalkan bahasa 'ke-sastra-an' dalam tiap penulisan berita.
Bramma Aji Putra dalam bukunya Menembus Koran : Berani Menulis Artikel Edisi II halaman 10 bercerita :
...Terus terang saya sendiri tak kuasa untuk menulis fiksi seperti cerpen, novel, puisi, dan sebangsanya. Pernah suatu hari, saya nekat bikin cerpen. Saya kirim ke sebuah surat kabar yang berpusat di Jawa Timur. Alasannya, saya sudah cukup kenal baik dengan redaktur budaya surat kabar itu sehingga tingkat pede yang saya miliki agak tinggi. Selang seminggu, saya mendapat balasan email darinya, "Mas, Anda mengirim cerpen atau artikel ?" Sontak saya malu dibuatnya, lalu memutuskan tidak akan membuat cerpen -setidaknya sampai saat ini. Cukuplah tulisan fiksi menjadi ladang bagi sebagian lainnya. Saya menempatkan diri sebagai pembaca karya-karya mereka. Tentu saja diiringi teriakkan nurani, "Iri ! Kok bisa sih bikin cerpen asyik gini ?"
...Toh jika Anda ingin membuat tulisan fiksi juga tidak jadi soal. Bakat orang macam-macam. Kalau semua seragam tentu banal dan membosankan, bukan ? Karena ada beberapa bagian menulis yang ternyata mengandung 'bahasa universal' : ia dapat dipakai dalam menulis fiksi maupun nonfiksi. Yang penting : sama-sama menulis, Bung !
Eyang, beberapa tulisannya pernah dimuat di koran, di kolom mahasiswa. Karena itu, dia jadi suka 'meng-ayo-ayo' para cucu dan anaknya buat nulis dan tembus koran, biar pada berprestasi. Suatu ketika di depan KWU saya ketemu Eyang, dia suruh saya buat ngirim tulisan ke koran, saya bilang, "Aku nggak suka disuruh-suruh". Bukan cucu yang berbakti. Mungkin saya waktu itu lupa kalau sedang ada dalam sebuah sistem yang apa-apa tidak bisa semaunya. Tapi memang untuk urusan tulis-menulis saya tidak suka disuruh-suruh, karena menurut saya itu adalah panggilan hati dan keterpaksaan membuat kejujuran tulisan jadi berkurang. Ah, tapi itu kan pendapat saya yang masih ada di bawah garis batas penulis pemula hehe.
Jujur saja, satu tahun belakangan ini saya jadi malas nulis. Kecuali nulis buletin yang memang sudah tuntutan. Sama nulis pelajaran yang sudah jadi kebutuhan. Padahal di setiap CV saya tulis hobi menulis hehe. Namun, tulisan Bramma Aji Putra dalam bukunya kembali menampar saya :
"If you want to be a writer," says Stephen King, "you must do two things above all others : read a lot and write a lot." Bagaimana saya mau menulis kalau membaca saja enggan. Apa yang akan saya tuang dari gelas yang kosong ? Mungkin inilah jawaban utamanya hehe.
Setiap orang punya modal berharga yang sama berupa waktu 24 jam sehari semalam. Menyadari hal ini, sebenarnya kita memiliki kesempatan yang sama untuk terus berkarya : menuangkan ide pikiran (hanya) dalam 4-5 lembar kuarto spasi ganda. Mengapa masih saja alasan kehabisan waktu menjadi dalih utama ?
"If you want to be a writer," says Stephen King, "you must do two things above all others : read a lot and write a lot." Bagaimana saya mau menulis kalau membaca saja enggan. Apa yang akan saya tuang dari gelas yang kosong ? Mungkin inilah jawaban utamanya hehe.
1o Tahun Kemudian : Jurnalis jujur yang aktif membantu masyarakat dalam bidang kesehatan :D, aamiin…
Saya ingat ucapan pembicara saat Pelatihan Internal Redaksi tahun lalu, "...Siapa bilang kita ini menulis ? Kita bukan menulis cerpen, puisi, dan yang lainnya. Kita ini bercerita...". Menyadari hal itu, saya jadi mikir, mungkin saya salah masuk kamar. Tapi tetap ada pelajaran yang bisa dipetik. Jadi sadar, kalau mimpi "10 Tahun Kemudian" yang saya buat harus segera direvisi. Maunya, tetap "aktif membantu masyarakat dalam bidang kesehatan", tapi tidak sebagai jurnalis ehehe insya allah.
Para pemalas menggunakan mood sebagai alasan untuk tidak bertindak. Para idealis bertindak mengendalikan mood untuk menghalau kemalasan. ‒Moh Fauzil Adhim
![]() | ||
| Satu tahun kemudian. Ketika Eyang-nya sudah berganti. Ketika yang Maba sudah tidak lagi jadi Maba. |

Komentar
Posting Komentar