Siang ini, saya dan teman-teman kelompok 1 kembali menyebar kuesioner. Kali ini kami mendatangi masyarakat RW 1 Kelurahan Bandarharjo. Berbeda dengan waktu sebelumnya, masyarakat yang kami datangi kali ini tinggal pada lingkungan perumahan padat penduduk yang dekat dengan pelabuhan. Kuesioner kali ini tentang penyakit tidak menular Diabetes Melitus (DM) atau masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah kencing manis.
Kami dibagi menjadi empat tim. Saya satu tim dengan Ina dan Zulfa. Target pertama kami, tiga orang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Kedatangan kami disambut hangat. Kursi kayu panjang berlapis cat biru langsung ditarik keluar untuk mempersilahkan kami duduk. Tidak lama kemudian teh botol bersedotan disuguhkan. Alhamdulillah.
![]() |
| Ina-Rino-Yoga-Aldi-Siti-Astri-Zulfa-Ajeng-Budi |
Wawancara dimulai oleh pertanyaan data diri seputar nama, umur, pekerjaan, dan riwayat pendidikan. Disusul oleh pertanyaan "Apakah Ibu menderita Diabetes Melitus ?". Banyak yang menggeleng dengan alasan tidak merasakan atau tidak pernah memeriksakan. Lalu berlanjut ke pertanyaan seputar riwayat keluarga yang menderita DM, pengetahuan tentang DM, perilaku yang memicu DM, hingga peran petugas kesehatan untuk mengatasi DM. Begitu seterusnya pertanyaan diulang ke target dua, tiga, empat, dan lainnya. Hal yang membuat saya haru ketika pertanyaan dijawab oleh ketidaktahuan karena kesalahpahaman, artinya setelah jawaban mereka dicatat kami harus segera meluruskan kesalahpahaman tersebut.
Hal lain yang membuat saya haru adalah semua pertanyaan dalam kuesioner selayak tamparan. Bukan hanya dengan kuesioner DM kali ini, tapi juga dengan kuesioner Mata Kuliah Isu Terkini Kesehatan lainnya. Faktor risiko yang saya tanyakan kepada masyarakat seolah kembali ke dalam diri sendiri dan menuntut untuk dijawab dalam hati. "Sudahkan kamu berperilaku seperti itu ?", "Sudahkah kamu memperhatikan pola hidupmu ? Pola makanmu ? Aktivitas fisikmu ?", "Sudahkah kamu merawat lingkunganmu ?". Jika semua masih dijawab dengan gelengan, bagaimana kamu mau mengurus kesehatan masyarakat kalau kesehatan sendiri saja tidak dijaga ? Pikir saya.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri. (QS Ar Ra'd : 13)
Seketika saya ingat orangtua. Bapak, ibu, dan adik-adik saya di rumah sana. Bagaimana ya kabar kesehatannya ? Bisa-bisanya saya wawancara orang dengan detail, ngasih intervensi, tapi keluarga sendiri cuma sebatas kalimat "apa kabar ?". Akhirnya, saat itu juga saya bbm bapak saya, saya suruh bapak dan ibu untuk medical check up. "Kenapa ?" Kata bapak. "Supaya tau apa yang bisa dikendaliin," jawab saya. Gaya banget deh nih si Ajeng ngomong begitu, pikir saya. Menit selanjutnya saya mulai cerita-cerita sama bapak tentang penyakit tidak menular lainnya yang banyak dipengaruhi sama pola hidup tidak sehat. Setiap saya bilang, "Bapak sama Ibu harus begini begini ya.". Bapak saya jawab, "Iya kamu juga harus begini begini". "Tapi Bapak sama Ibu jangan begitu begitu", kata saya lagi. "Iya kamu juga jangan begitu begitu." Jawab Bapak lagi. Aih lucunya, kalau ketemu langsung belum tentu bakal bisa ngomong seperti itu.
Kesimpulannya :
1. Emang ilmu mesti diterapkan di kerjaan ? Kan nggak. Ilmu bisa diterapkan dimana aja. Lingkungan keluarga, masyarakat sekitar, dll. (Bapak)
2. Everyone thinks of changing the world, but no one thinks of changing himself. (Leo Tolstoy)
Semangat !
Semarang, 17 November 2014
- Mahasiswi Semester 5 yang-lagi-galau-peminatan.


Komentar
Posting Komentar