Langsung ke konten utama

Menjadi Epidemiolog

"Eh, menurutmu aku cocok dimana ?”
“Hmm dari tampangmu sih kayaknya disana. Kalau aku kalau aku ?”
“Hmm dari tampangmu sih kayaknya disitu.”
“Apa iya tampangku bilang gitu ?”
“Nggak juga sih.”
“Lah -.-”

Salah satu percakapan yang melanda –beberapa– kita pada beberapa bulan lalu : hubungan antara tampang dan pilihan peminatan. Lucu. Tapi itu cuma sebatas percakapan seru-seruan di tengah kegalauan, bukan? Jelas nggak berhubungan. Pada akhirnya, kita memahami bahwa jawabannya ada dalam diri sendiri. Oke, dengan dituntun fatwa hati, Peminatan Epidemiologi dan Penyakit Tropik. Bismillah :)
Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. -HR. Thabrani
Lalu, apa mimpimu setelah lulus? Tentu menjadi pribadi bermanfaat. Ah ! Itu mah masih umum banget, jeng. Tapi, siapa sih yang nggak mau? Paling nggak, jangan jadi orang yang bahkan kehadirannya aja memberatkan orang lain. Nah, kalau kata Prajna Paramita sih, In the Name of Epidemiolog, yang maknanya lulusan epidemiologi yang ilmunya terpakai alias mengabdi tepat bidang. Membayangkan, kita menyiapkan informasi untuk keperluan program kesehatan dengan menilai status kesehatan dalam masyarakat, serta memberikan gambaran tentang kelompok penduduk yang terancam. Bergabung bersama Dinkes atau wadah sejenis lainnya untuk melakukan kegiatan analisis penyakit dalam upaya mengatasinya dan menanggulanginya. Hmm bayangin sih.
Mengabdi tepat bidang.
Ya, meski nggak menutup kemungkinan bisa memanfaatkan kegemaran kita lainnya untuk optimalisasi pengabdian (?) Misalnya, bikin buku cerita untuk anak-anak, gitu? Mungkin biar lebih menarik bisa dengan pop up. Isi pokoknya, apa yang bisa dilakukan seorang anak untuk membentengi diri bahkan memberantas penyakit yang sering menghantui masyarakat hahaha.
A journey of a thousand miles begins with a single step. –Lao Tsu
Semoga Allah memeluk mimpi-mimpi kita. Selamat datang, semangat menyelam! Eh, sebelum ditutup ada kutipan bagus nih dari Tere Liye:

Menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang keren. Tidak bisa disambi, tidak bisa part time, tidak bisa magang. Tidak ada yang lebih membanggakan hati, melihat seorang ibu dengan pendidikan tinggi, menggunakan ilmunya tersebut mengurus keluarganya. Kalau ada yang bilang sia-sia sekolahnya, maka biarkan saja mereka berpendapat demikian. Kita sih tidak, dan kita tahu persis mana pendapat yang paling kokoh, lantas meyakininya.
Ingat, seindah-indahnya rencana adalah rencananyaNya, bukan ? :) 

Nb: Tulisan dibuat dalam rangka penugasan makrab.

Komentar