Langsung ke konten utama

Donorojo : Dari Mata Pembaca Suara

Mba, gimana disini, betah ?
Wah betah kok, pak, enak ada pantai :D
Yaa sengaja kali kita (baca : penduduk) di taruh dekat pantai, biar hilang disapu tsunami hahaha.
Pemandangan dari teras belakang rumah singgah kami.

Celetuk salah satu bapak yang secara tidak sengaja kami (saya dan kelompok) temui di daerah Kali Semut. Mendengarnya membuat saya tersenyum, getir, mengapa beliau bisa berpikir seperti itu ? Stigma dan diskriminasi, dua hal yang melekat pada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). Karena itu, kah ? Ditolak, dijauhi, dikucilkan. Tidak hanya oleh masyarakat, bahkan keluarga sendiri pun bisa. Salah satu OYPMK (saya lupa namanya) bercerita, ia ditinggal pergi istrinya karena kusta. Namun, di sisi lain kusta berhasil mempersatukan pak Endi (salah satu OYPMK) dengan istrinya. Bu Endi sangat antusias menceritakan pertemuan mereka, suka dukanya membangun keluarga, apalagi pak Endi kini berhasil menjadi PNS berkat kerja kerasnya. “Saya takut diundang Hitam Putih. Lah bapak kan kusta, jadi PNS hahaha,” ungkap bu Endi.


Iatri dan Ulfa bersama pak Endi dan keluarga.

Menyenangkan ketika kami, orang baru, dapat diterima oleh para OYPMK dengan tangan terbuka. Membiarkan kami memasuki ruang tamunya, berbagi tempat duduk, dan menit selanjutnya menceritakan kami tentang kisah hidupnya. Tidak jarang mereka juga bicara mengenai sejarah Indonesia, tragedi Hiroshima dan Nagasaki, bahkan hingga bagaimana Adam dan Hawa bisa diturunkan ke bumi. Namun, satu yang sering saya dengar dari masing-masing mereka, doa yang sama.
 


Mengunjungi Mbah Mikan, pasien inventaris, di Rumah Sakit.

Seperti Mbah Mikan (OYPMK yang berada di Rumah Sakit) yang doanya ada di menit-menit pertama perbincangan kami, kemudian disusul cerita beliau akan masa lalunya. Meskipun saya tidak mengerti apa yang mbah Mikan utarakan (karena menggunakan bahasa Jawa), saya bisa menarik kesimpulan bahwa beliau sedang bercerita kisah sedih.


Kegiatan kerja bakti bersama warga


Mendengar adalah bukan tentang menangkap suara-suara dengan telingamu, lebih dari itu, mendengar adalah menangkap sesuatu -di-balik-suara- sesuatu yang kadang-kadang tak bisa benar-benar ditangkap oleh mereka yang mampu mendengar suara-suara secara sempurna. ‒Fahd Djibran
Ada lomba-lomba untuk warga

Di sudut lain ruangan, saya menemukan sosok pak Slamet yang suka memakai penutup kepala. Saat itu, seorang mbah putri (saya lupa namanya) menghampiri pak Slamet sambil membawakannya peci berwarna merah tua. Dipakaikannya peci itu di kepala pak Slamet dan berusaha meyakini beliau bahwa peci tersebut bagus. Maklum saja, pak Slamet sudah tidak dapat melihat. “Ini kembaliannya,” mbah putri memberi pak Slamet uang kembalian dan kemudian berlalu pergi. Ah, betapa indahnya momen saling berbagi ini.
 


Bersama Campers, yang mayoritas anak UI

Ada pula pak Suwarno. Beliau berkomunikasi dengan bahasa Indonesia yang baik, meski kadang diselingi bahasa Jawa. Di tengah asyiknya bercerita tiba-tiba beliau berhenti, namun saya tetap fokus memandang beliau. “Mba kenapa ngeliatin saya ? Saya jelek kayak monyet, ya ?” tanya pak Suwarno seketika dalam bahasa Jawa. Kemudian saya bertanya kepada Adin (teman sekelompok yang mampu berbahasa Jawa) untuk memastikan artinya. Saya kaget luar biasa. Sejurus perasaan bersalah pun muncul dan kami segera berusaha meyakinkan pak Suwarno bahwa itu tidak benar.


Putri, Ratih, dan Sarah bersama warga Liposos.

Mbah Mikan, pak Slamet, dan pak Suwarno. Kegigihan mereka luar biasa. Terlebih ketika saya melihat mereka bekerja sama menuju musholla untuk menunaikan sholat. Mbah Mikan yang masih bisa melihat tapi jalannya harus dibantu, pak Slamet yang masih bisa berjalan tapi matanya sudah tidak dapat melihat, dan pak Suwarno. Betapa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk melalaikan kewajiban, terutama yang berkaitan dengan keTuhanan.



Persembahan di malama perpisahan.
 
Donorojo. Ini kali pertama saya mengikuti workcamp. Pengalaman yang sulit dilupakan. Memotong dua minggu waktu liburan, menunda kepulangan ke kampung halaman, sungguh tidak jadi penyesalan. Karena, disini saya bertemu dengan sosok-sosok yang darinya bisa dipetik sebuah pembelajaran. Para Campers dan tentu saja OYPMK. Tiap-tiap mereka memiliki kisah inspiratifnya. Satu yang sama, kegigihan. Awalnya kecewa dan marah kepada yang ‘Punya Dunia’, namun akhirnya bangkit dan mencoba mensyukuri semuanya. Bagaimana dengan kita ?



Aku tidak peduli keadaan susah dan senangku. Karena aku tak tahu, manakah di antara keduanya itu yang lebih baik bagiku. ‒Umar bin Khatab ra

Komentar