Langsung ke konten utama

Ubukubuk : Cerita Bukubukuan

Dari dulu sebenarnya aku suka nulis. Nulis di buku temen – waktu dianya nggak ada. Nulis di tangan temen – waktu dianya tidur di kelas. Nulis di meja – waktu mau ulangan fisika (pernah doang kok, nggak sering #ngeles). Terus dulu punya cita-cita mau masuk buku pelajaran sejarah. Tapi, nggak kesampean karena nggak nemu-nemu dimana pintunya. Ya udah aku ganti cita-cita buat masuk buku sendiri aja alias bikin buku sendiri. Alhamdulillah, berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong keinginan luhur, akhirnya aku berhasil melahirkan sebuah buku pada tahun 2016 ini :)



Nah, itu bukunya. Loh kok cover-nya beda-beda, jeng ? Itu buku apaan dah ? Iya. Jadi, itu cuma buku-bukuan. Bukan buku yang isinya tulisan aku, tapi buku yang isinya akan kalian tulis sendiri alias itu semacam buku catatan. Aku (kita) cuma mendesain cover-nya sesuai permintaan. Oh iya kenalin, nama buku ini ‘Ubukubuk’. Ih kok aneh sih, jeng. Iya, soalnya yang punya juga aneh : Aku & Desi (Eci). Kata aku dia aneh, kata dia aku aneh. Jadi, siapa yang aneh, jeng ? Yang masih bertahan baca tulisan ini lah.

Ubukubuk baru lahiran awal April ini, di saat kita nganggur nunggu revisian  dari dosen, maka jadilah. Alhamdulillah kalau dihitung-hitung sejauh ini Ubukubuk udah ngelahirin 20-an buku. Seneng. Soalnya karya kita bisa dinikmati orang lain, meski ini cuma karya kecil-kecilan atau bahkan belum pantes disebut karya. Ya tapi kita mencoba mensyukuri sedikit yang kita punya ini dengan mengoptimalkannya dalam sebuah Ubukubuk. Itung-itung nambah pengalaman hehehe.

Ubukubuk masih banyak banget kekurangannya, dari mulai bahan baku sampai kemasannya, maklum namanya juga baru belajar. Nggak tau juga ini bakal berlanjut atau nggak. Soalnya Desi baru aja seminar proposal –artinya sebentar lagi terjun penelitian. Sementara aku masih menunggu penuh pengharapan. (FYI : Desi peminatan Kesehatan Lingkungan. Aku peminatan Epidemiologi dan Penyakit Tropik). Semoga bagaimana pun ke depannya nanti, kita bisa senang menjalaninya, dimudahkan, diberkahi.

So, kapan kamu bener-bener punya buku sendiri, jeng ?
Tunggu tanggal mainnya #tsah #gayabet

Komentar