- Kamu mau apa ? / Ini pak, saya cuma mau ngasih revisian kuesioner. / Cuma…cuma… / Eh iya enggak pak…enggak cuma…
- Sempro ya. Senin atau Selasa. / Oh iya, pak. / Kalau nggak ada panggilan dari Dekan. / *lemes*
- Ini jadi nggak yak Sempro ? Kalau nggak ada panggilan Dekan ? 2 Mei hari pendidikan ? Aaak ! *nggak bisa tidur*
- Kamu udah ngingetin bapaknya ? / Belum / Itu kemarin Nina minta bimbingan Senin, kata bapaknya nggak bisa karena harus ke Pasca. / *langsung line bapaknya* *cuma di read* *nggak dibales sampai hari H*
- Loh mbak, mbak disini ? Ini ruangan udah saya pinjem. / Kamu udah ngisi buku di depan ? / Saya udah ngurus di Unit Skripsi. Peminjamannya disana. Mba udah ? / Saya kan bukan skripsi. Magister / Kamu mau apa ? Sidang ? / Saya Sempro / Ini mau Semhas / *Senior selalu benar*
- Bapaknya belum dateng-dateng ? / Belum / *Kalau nggak ada panggilan Dekan*
- Maksud kamu apa Sempro nggak bilang-bilang !!!
- Ya jahat aja Sempro nggak bilang-bilang.
- Aku sedih dia nggak cerita-cerita.
- Kenapa kamu diundang ? Kenapa aku nggak ?
- *dan-entah-apa-dan-seberapa-yang-mereka-katakan-di-depan-atau-belakang*
Senin,
2 Mei 2016 (08.30 - selesai). Atas izin Allah aku Seminar Proposal (Sempro).
Atas izin-Nya juga dosbing yang nggak pernah balas pesan tiba-tiba
dateng. Nggak jadi di SCL 6, alhamdulillah masih ada ruang kosong SCL 4. Nggak bisa nyalain proyektor,
alhamdulillah
ada temen yang nggak sengaja dateng nolongin. Terlepas dari banyaknya
tanggapan miring ini hehehe aku bersyukur akhirnya Sempro ini jadi.
Kalau kata mereka sih, marah tanda sayang. Kecewa karena sebenernya cuma
mau merasakan bahagia yang sama. Tsah ! Yaudah makasih ya. Kelak
kalian akan merasakan hal yang sama :) Bahagianya itu luar biasa.
Sebanding sama rasa takut yang kamu punya. Takut tiba-tiba dosenmu
dipanggil Dekan. Atau dipanggil yang lain.
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabb-mu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. - QS. Huud: 123
Sedikit cerita. Atau mungkin banyak. Dulu waktu tau Citra mau Sempro, aku tanya, “Cit, cepet banget acc, rahasianya apa ?” sambil ketawa-tawa dia jawab, “Luruskan niat, jeng”. Jawaban yang makjleb. Aku langsung terima. Beberapa minggu setelahnya giliran aku yang Sempro. Terus malamnya aku tanya dia lagi, “Aku harus gimana ?” katanya “Serahkan semuanya kepada Allah.”. Mungkin
jawabannya Citra standar. Sering didenger. Kita tau. Tapi lupa. Lupa
punya Allah. Lupa kalau segalanya udah diatur Allah. Setelah doa dan
usaha, serahkan. Kalau kata orang-orang sih, biar langit yang menjalankan skenarionya. Orang yang mana, jeng ?
Bersyukurnya
aku punya temen-temen yang baik. Rasanya gimana gitu ketika masih h -
berapa udah banyak yang nawarin bantuan. Padahal selama ini aku merasa
nggak pernah bantu mereka. Kecuali bantu ngajakin makan. Itu bantuan, jeng ? Bantuan macam apa -_- Iya
bantuan kok buat Ghea, karena dia bisa tahan sehari atau dua hari atau
lebih nggak makan. Kalian jangan kayak gitu ya :( Terharunya lagi karena
mereka amanah. Aku personal chat mereka untuk ngundang Sempro. Mereka nggak tau siapa aja yang aku undang. Tau-tau pas hari H “eh ada dia”. Padahal mereka semua saling kenal. Ya gitu lah ceritanya aku jadi bingung sendiri. Gimane sih bu ~
Hm tau apa soal enak dan kasihannya hidup orang lain? Kalau tidak pernah tau betapa banyak nikmat di hidupnya sendiri.- Caption instagramnya @selestinisfu
Semsester
7. Aku pernah nekat ikut Ghea mudik ke Brebes untuk stupen. Pertama
kalinya. Nyampe sore. Naik angkutan terakhir hari itu. Disapu-sapu debu
pantura. Jalannya lambat. Jalan, berhenti, jalan, berhenti.
Dipanggil-panggil petani bawang yang juga mau pulang. Jadilah
angkutan kelebihan muatan. Menggal-menggol di jalan. Anak-anak nangis
kepanasan. Ibu-ibu marah karena supir terus ngangkut penumpang. Kenek
asik ngitung uang. Ramai. Aku diam. Sedikit ketawa karena logat mereka
yang nggak biasa. Lebih banyak sedih. Karena merasa betapa aku nggak
bersyukurnya jadi manusia. Beberapa hari di Brebes. Balik ke Semarang
mesti naik kereta dari Stasiun Tegal. Tiba di Semarang, bimbingan, tanpa
babibu, topikku di tolak tanpa alasan. Aku cerita begini sebagai pengingat diri sendiri. Kalau Allah itu Maha Baik.
Tak seperti kita, Hajar tak pernah merasa lari tujuh kalinya di lintasan Shafa-Marwah sebagai sesuatu yang sia-sia. Meski habis tenaganya. Meski tiada hasil langsung darinya. Meski bukan di sana tempat Allah meletakkan karunia. Tetapi memang demikianlah rizqi orang yang bertaqwa di lapis-lapis keberkahan. Setelah mengihsankan amal dan menyempurnakan ikhtiyar, serahkan hal selanjutnya pada Allah dengan sepenuh iman. Dia lebih tahu dimana tempat terbaik, kapan saat terbaik, dan bagaimana cara terbaik. - Salim A Fillah dalam Lapis-lapis Keberkahan hal 153
Cerita
ini aku tulis sebagai pengingat diri aku sendiri. Kelak, kalau di depan
ketemu Lelah, biasanya dia bawa temen namanya Keluh. Kalau lama-lama
sama mereka, nanti aku jadi lupa pernah kenal Syukur.
Selamat revisian. Buru penelitian ! Anak SD keburu liburan, jeng !

Komentar
Posting Komentar