![]() |
| Mella terniat bawain kita kacamata. |
Oktober 2016, aku lulus kuliah S1. Beberapa bulan setelahnya, aku dapet
kerja. Alhamdulillah. Akan sangat kurang ajar kalau aku masih bisa ngeluh. Lega? Pasti.
Tapi, sebagai orang yang selalu-mikirin-apapun, ada hal lain di pikiranku. Ini bobotnya besar banget: Teman-temanku belum lulus. Mella,
salah satunya.
"Mel, kapan lulus?" Awalnya kalimat itu selalu aku, dan mungkin beberapa orang lainnya, tanyain ke Mella. Reaksi dia cuma ketawa sambil bilang "nggak tau nih". Jeng, sadar, pertanyaan tentang "Kapan" sama sekali nggak membantu Mella. Coba diganti jadi "Mel, apa yang bisa aku/kita bantu biar kamu bisa lulus tahun depan?". Oke, aku coba. Jawabnya? Masih "nggak tau."
"Mel, kapan lulus?" Awalnya kalimat itu selalu aku, dan mungkin beberapa orang lainnya, tanyain ke Mella. Reaksi dia cuma ketawa sambil bilang "nggak tau nih". Jeng, sadar, pertanyaan tentang "Kapan" sama sekali nggak membantu Mella. Coba diganti jadi "Mel, apa yang bisa aku/kita bantu biar kamu bisa lulus tahun depan?". Oke, aku coba. Jawabnya? Masih "nggak tau."
Aku nggak menanyakan itu sekali-dua kali. Berkali-kali bahkan sampe Mella bosen sendiri. Tapi jawaban dia masih selalu, "nggak tau, jeeng".
Mella pernah tiba-tiba nangis di McD gara-gara aku tanya "Kenapa?". Inget nggak, Mel? Kamu bilang, "Takut dan bingung gimana mulainya." Disitu aku merasa kayak Ibu yang ngomelin anaknya karena nilai matematikanya jelek. Di samping itu, aku merasa bersalah karena sering ngajak Mella main. Karena saat itu aku pikir, Mella butuh teman, yang nyata ada di dekat dia. Aku mau Mella tau bahwa kita ada untuk Mella. Itu.
September 2019, akhirnya Mella lulus. Aku bersyukur karena selama prosesnya Mella masih mudah dihubungi, masih ayo kalau diajak ketemuan, masih menjadi Mella. Meski kita nggak pernah tau apa yang sebenarnya Mella rasakan dan berusaha hadapi, akhirnya dia berhasil menyadari ke-nggak-beresan dalam prosesnya itu. Dia berhasil melawan ke-nggak-tau-an itu. Dia berhasil bertahan.
Iya. Akhirnya Mella bisa. Dan jelas bukan karena kita, tapi karena dia sendiri. Mella tepat, untuk nggak bergantung pada dahan yang rapuh, kita, manusia.
"Akhirnya Mella lulus juga ya, jeng,"
"Maaf ya jeng suka nggak bolehin Mella main,"
"Makasih ya, jeng, udah dateng. Ini minum..minum..makan rotinya..."

Komentar
Posting Komentar