Langsung ke konten utama

Tentang Bapak

Bapak tiba-tiba, tiap aku di kamar seharian depan laptop, "Jeng, ini sate." Bapak tau Ajeng suka sate.

Bapak tiba tiba, tiap aku di kamar ngunci pintu, "Jeng, ini es." Bapak tau Ajeng suka es coklat.

Bapak tiba-tiba, tiap aku mau berangkat kerja, "Jeng, bensin udah diisi. Jangan suka mepet-mepet belinya." Bapak tau Ajeng suka nekat isi bensin pas udah kedap-kedip.

Bapak tiba-tiba, waktu aku persiapan aktualisasi latsar, "Jeng, kapan acaranya? Bapak beli boneka tangannya tapi dari Surabaya." Bapak tau Ajeng perlu properti.

Bapak tiba-tiba, waktu aku ulang tahun ke 27 kirim pdf, "Met Ulang Tahun buat Anakku. Semoga dengan bartambahnya usia. Kamu senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan dan dimudahkan segala urusannya. Bapak berdoa semoga kamu sukses dalam karier, semakin solehah dan lebih bisa bermanfaat bagi orang lain dan keluarga. Tak lupa bapak selalu mendoakan semoga kamu menjadi pribadi yang semakin dewasa, bisa mengayomi dan menjadi teladan bagi adik2 kamu. Dan tak pernah berhenti bapak mendoakan supaya kamu segera menemukan jodohmu, seorang laki2 yang bisa menjadi imam yang baik buat kamu. Yang bisa membimbing, mengayomi, menafkahi dan menyayangi km sekaligus memberikan anak2 yang sholeh dan sholehah. Aamiin".

Ke-tiba-tiba-an bapak selalu membuat aku merasa jadi anak durhaka.

Kadang aku mikir, pasti berat rasanya jadi laki-laki satu-satunya. Ditambah, diamanahi tiga anak perempuan yang ngeyel-ngeyel. Seberapa besar rasa khawatirnya? Kalau perempuan bisa dengan mudah mengekspresikan apa yang dia rasa, bagaimana dengan laki-laki?

Cerita waktu bapak sakit. Aku nggak pernah ngeliat bapak se-tidak-ber-da-ya itu. Sedih rasanya, mau nangis, tapi malu kalau ketahuan nangis. Akhirnya, setelah ngeyel-ngeyelan, bapak mau periksa ke Puskesmas dan di-swab. Diperjalanan menuju Puskesmas, aku liat sepasang suami istri lagi main sepeda. Aku bilang, "Bapak mau Ajeng beliin sepeda? Ntar berdua sama Ibu bisa sepedahan." Terus bapak jawab, "Bapak nggak mau apa-apa, cuma mau punya cucu." Bapak ketawa.

Beberapa hari setelahnya, hasil swab keluar, positif. Aku yang saat itu di Puskesmas, langsung pulang ke rumah untuk jemput dan persiapan rujukan bapak. Sepanjang jalan pulang, nangis. "Aku harus puas-puasin nangis di jalan, biar sampai rumah udah nggak nangis," pikirku.

Sampai rumah, setelah semua beres, kita kembali ke Puskesmas. Alhamdulillah, kata dokter bapak cukup dirujuk ke Wisma Atlet, bukan RS Rujukan. Artinya, kondisi bapak saat itu nggak seburuk yang aku bayangin. Malam itu bapak berangkat, aku pulang ke rumah. Ketika sudah di Wisma Atlet, tiba-tiba bapak WA, "Jeng, terimakasih ya sudah ngopeni Bapak."

Saat itu pikiran udah nggak karuan, takut bapak kenapa-kenapa. Aku harus kuat di depan ibu dan adik-adik. Harus bisa dan mampu, apapun itu. Mencoba sok cool dan yakinin kalau semua baik-baik aja. Aku mikir, gimana kalau obrolan bapak kemarin itu 'permintaan terakhir' nya? Aku belum bisa wujudin. Pokoknya malam itu pikirannya udah ngawur. Wajar, kan? Iya, wajar, jeng.

Sampai sekarang, aku nggak berani liat muka atau mata bapak lama-lama. Bapak kira mungkin aku cuek. Tapi, sebenernya aku, yang cengeng ini, lagi nahan air mata. Karena tiap aku liat bapak, aku merasa bersalah.

Ajeng berterimakasih sama Allah karena udah dititipin ke bapak dan ibu yang luar biasa versi kita. Walau secara ilmu agama, bapak dan ibu masih banyak kurangnya dibanding keluarga ustadz-ustadz, tapi bapak dan ibu bisa memberi contoh bagaimana menjadi manusia terhadap sesamanya. Semoga kita di beri umur untuk terus belajar mendekat kepada-Nya. Aamiin.

Ajeng
Si anak sulung

Komentar