Agustus lalu aku ketemu Devita di Puskesmas Pembantu. Dia cerita soal Promilnya yang alhamdulillah berhasil. Kita nggak pernah ngobrol banyak tentang hal-hal personal, apalagi nanya "udah isi apa belum?".
Kita sama-sama pejuang garis dua :)
Devi cerita cukup banyak dan aku baru tau kalau kondisi kita sama: PCOS. Dia cerita berobat ke dokter siapa dan dikasih treatment apa.
"BB nya turun dulu nggak, Dev?"
"Nggaak mbaa!"
Ya! Kita sama-sama susah turun BB. Padahal nggak banyak makan, aktivitas fisik sama, stress aja sih paling.
Meski aku pernah coba ke dokter itu dan saat itu rasanya cukup sekali aja karena masih optimis, "bisa koook Jeng normal". Tapi ternyata nggak bisa. Belum bisa-bisa. Akhirnya coba ke dokter itu lagi dan kali ini alhamdulillah dokternya buka praktik di Klinik, yang jadwalnya lebih cocok di aku.
Dari cerita Devi, aku jadi semangat lagi kontrol. Nyoba ke Kliniknya, dengan harapan membuahkan hasil yang sama: garis dua.
"Yaa Allah..."
Kontrol kedua, "dindingnya bagus tapi sel telurnya masih kecil ya", kata dokter. Sedih karena dosis obatnya harus naik. Sedih karena pas lihat buku kontrol tertulis jelas usia aku 30 tahun 5 bulan. Nahan biar nggak nangis di ruangan.
"Semangat ya.. banyak juga kok yang berhasil"
Pulangnya sampai dua hari kemudian, suami jadi kena mode nggak jelasnya aku.
"Aku dulu nggak papa.. aku cek usg normal sebelum nikah..kenapa sekarang ada masalah?"
Pertanyaan yang diulang-ulang. Sering mikir kalau ini adalah ujian buat aku sama suami. Ujian kita. Karena datangnya pas kita udah berdua.
"Kita sama-sama ya jalannya. Tungguin aku ya. Jangan ditinggalin..."
Tiba-tiba besok diajak ke Sukabumi, lihat yang ijo-ijo, naik jembatan gantung yang panjang, dan ke tempat makan yang lucu. Sebagai gantinya, kamu cuma minta aku nggak bete dan minta beli bandrek aja.
Sayang, kamu tuh ngeselin banget asli gemes.
Tapi, semoga kita bisa saling melengkapi terus.
Komentar
Posting Komentar