Langsung ke konten utama

Postingan

Bandarharjo : Kisah Kuesioner Selayak Tamparan

Siang ini, saya dan teman-teman kelompok 1 kembali menyebar kuesioner. Kali ini kami mendatangi masyarakat RW 1 Kelurahan Bandarharjo. Berbeda dengan waktu sebelumnya, masyarakat yang kami datangi kali ini tinggal pada lingkungan perumahan padat penduduk yang dekat dengan pelabuhan. Kuesioner kali ini tentang penyakit tidak menular Diabetes Melitus (DM) atau masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah kencing manis. Kami dibagi menjadi empat tim. Saya satu tim dengan Ina dan Zulfa. Target pertama kami, tiga orang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Kedatangan kami disambut hangat. Kursi kayu panjang berlapis cat biru langsung ditarik keluar untuk mempersilahkan kami duduk. Tidak lama kemudian teh botol bersedotan disuguhkan. Alhamdulillah .   Ina-Rino-Yoga-Aldi-Siti-Astri-Zulfa-Ajeng-Budi

Pimnas 27 : Cerita mimpi (kurang spesifik) yang jadi nyata

Dulu, waktu jadi mahasiswa baru 2012, saya punya mimpi di bawah. Waktu itu, kabarnya, Pimnas ke 26 tahun 2013 bakal dilaksanakan di Banjarmasin. Tahun itu mimpi saya nggak terwujud. Selain karena ternyata Pimnas-nya dilaksanakan di Universitas Mataram, proposal yang tim saya ajukan pun belum berhasil 'menembus' dikti :D

Dilema Menulis dan Catatan "10 Tahun Kemudian"

Sesungguhnya kepo itu kadang jadi obat ketika lagi 'capek' sama Tembalang dan seisinya. Misal, hasil kepo kita menunjukkan kalau si X ini ternyata baru dinobatkan lolos jadi peserta PIMNAS mengalahkan ratusan bahkan ribuan mahasiswa lainnya. Si Y ternyata sekarang lagi menjalankan bisnis jilbab. Si Z ternyata sekarang jadi berhijab. Mengetahui apa yang telah mereka capai terkadang membuat saya sadar kalau saya, pokoknya, harus berubah semakin baik dari waktu ke waktunya. Jangan mau kalah, paling tidak, sama diri saya yang dulu, yang mungkin pernah lebih baik daripada hari ini. Itu namanya rugi. Berarti saya harus buru-buru sadar keburu saya 'gulung tikar'. #JanganCumaWacanaJeng! Nah, kalau gitu kan berarti kepo-nya jadi bermartabat. Hehe

Senyum di Bumi Rantau

Dalam sebuah forum, seorang teman berkisah tentang adik kelas perempuannya yang sangat ramah. Keramahan membuat dia disayangi penduduk bumi rantau. Bayangkan, pernah ada seorang laki-laki yang meminta alamat kos si adik ke tukang laundry langganannya. Kenapa ? Karena, si laki-laki pernah secara tidak sengaja di-senyum-i si adik. Bahkan, si adik pernah ditawari nasi goreng gratis oleh sesama pembeli (laki-laki) karena melihat wajahnya yang ramah. Syukurlah si adik menolak segala maksud lelaki bergelagat tersebut #ModusEverywhere. Source : http://images2.fanpop.com

Golput Bisa Jadi Kaya, Apa Iya ?

Minggu lalu saya survei lapangan untuk tugas mata kuliah Ekologi Pangan dan Gizi ke daerah Tambak Lorok, semacam kampung nelayan di daerah Semarang. Saya perhatikan, jumlah pamflet partai dan para calon legislatif banyak bertebaran disini. Lebih banyak dibanding jalan-jalan besar yang sebelumnya saya lewati. Bahkan, lebih banyak dibanding yang bertebaran di sepanjang jalan menuju kampus. #MulaiMikir

Yang Benar atau Dengan Benar ?

X     : Gimana presentasi aku kemarin ? Y    : Public speaking kamu bagus. X     : Tapi, jawaban aku nyambung nggak sama pertanyaannya ? Y    : Enggak. X    : Hah ? Emang iya, Z ? Z     : Sedikit. X    : Tuh kan, Y, sedikit doang yang nggak nyambung ! Z     : Maksud aku, sedikit yang nyambung. X    : Tapi, dari buku yang aku baca emang begitu jawabannya. Y     : Kamu tuh ngomongnya meyakinkan. Jadi, kita nggak sadar kalau itu salah :D Berarti kamu udah melakukan sesuatu secara bener, bukan melakukan sesuatu yang bener . Kalau yang kamu lakuin salah, asal kamu ngebawainnya bener, pasti jadi bener.  #Bincangpincang

Mengunjungi Merby

Kemarin, semacam Sabtu yang gagal jadi biasa. Berawal dari iseng 'meng-iya-kan' ajakan reportase tetangga sebelah, saya tiba di Jalan Mataram. Ah, yakin, di dalam sini pasti ada banyak kejutan. Di dalam, saya temui anak dengan warnanya yang beragam. Berlari, menari, menyanyi, melukis, memainkan biola. Yang orang tua duduk menunggu di kedai makan, berbelanja souvenir , atau hanya sekadar bercengkrama di bibir taman. Tapi, bukan mereka yang utamanya kami cari. Siapa yang membuat mereka semua tertawa lepas dan menghabiskan waktu disini ? Yang membuat kami sejenak lupa arti bosan dan tertekan ?