Langsung ke konten utama

Postingan

Donorojo : Dari Mata Pembaca Suara

Mba, gimana disini, betah ? Wah betah kok, pak, enak ada pantai :D Yaa sengaja kali kita (baca : penduduk) di taruh dekat pantai, biar hilang disapu tsunami hahaha. Pemandangan dari teras belakang rumah singgah kami. Celetuk salah satu bapak yang secara tidak sengaja kami (saya dan kelompok) temui di daerah Kali Semut. Mendengarnya membuat saya tersenyum, getir, mengapa beliau bisa berpikir seperti itu ? Stigma dan diskriminasi, dua hal yang melekat pada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). Karena itu, kah ? Ditolak, dijauhi, dikucilkan. Tidak hanya oleh masyarakat, bahkan keluarga sendiri pun bisa. Salah satu OYPMK (saya lupa namanya) bercerita, ia ditinggal pergi istrinya karena kusta. Namun, di sisi lain kusta berhasil mempersatukan pak Endi (salah satu OYPMK) dengan istrinya. Bu Endi sangat antusias menceritakan pertemuan mereka, suka dukanya membangun keluarga, apalagi pak Endi kini berhasil menjadi PNS berkat kerja kerasnya. “ Saya takut diundang Hitam Putih...

Menjadi Epidemiolog

"Eh, menurutmu aku cocok dimana ?” “Hmm dari tampangmu sih kayaknya disana. Kalau aku kalau aku ?” “Hmm dari tampangmu sih kayaknya disitu.” “Apa iya tampangku bilang gitu ?” “Nggak juga sih.” “Lah -.-” Salah satu percakapan yang melanda –beberapa– kita pada beberapa bulan lalu : hubungan antara tampang dan pilihan peminatan. Lucu. Tapi itu cuma sebatas percakapan seru-seruan di tengah kegalauan, bukan? Jelas nggak berhubungan. Pada akhirnya, kita memahami bahwa jawabannya ada dalam diri sendiri. Oke, dengan dituntun fatwa hati, Peminatan Epidemiologi dan Penyakit Tropik. Bismillah :) Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. -HR. Thabrani Lalu, apa mimpimu setelah lulus? Tentu menjadi pribadi bermanfaat. Ah ! Itu mah masih umum banget, jeng. Tapi, siapa sih yang nggak mau? Paling nggak, jangan jadi orang yang bahkan kehadirannya aja memberatkan orang lain. Nah, kalau kata Prajna Paramita sih, In the Name of Epidemi...

Bandarharjo : Kisah Kuesioner Selayak Tamparan

Siang ini, saya dan teman-teman kelompok 1 kembali menyebar kuesioner. Kali ini kami mendatangi masyarakat RW 1 Kelurahan Bandarharjo. Berbeda dengan waktu sebelumnya, masyarakat yang kami datangi kali ini tinggal pada lingkungan perumahan padat penduduk yang dekat dengan pelabuhan. Kuesioner kali ini tentang penyakit tidak menular Diabetes Melitus (DM) atau masyarakat biasa menyebutnya dengan istilah kencing manis. Kami dibagi menjadi empat tim. Saya satu tim dengan Ina dan Zulfa. Target pertama kami, tiga orang ibu yang sedang duduk di teras rumahnya. Kedatangan kami disambut hangat. Kursi kayu panjang berlapis cat biru langsung ditarik keluar untuk mempersilahkan kami duduk. Tidak lama kemudian teh botol bersedotan disuguhkan. Alhamdulillah .   Ina-Rino-Yoga-Aldi-Siti-Astri-Zulfa-Ajeng-Budi

Pimnas 27 : Cerita mimpi (kurang spesifik) yang jadi nyata

Dulu, waktu jadi mahasiswa baru 2012, saya punya mimpi di bawah. Waktu itu, kabarnya, Pimnas ke 26 tahun 2013 bakal dilaksanakan di Banjarmasin. Tahun itu mimpi saya nggak terwujud. Selain karena ternyata Pimnas-nya dilaksanakan di Universitas Mataram, proposal yang tim saya ajukan pun belum berhasil 'menembus' dikti :D

Dilema Menulis dan Catatan "10 Tahun Kemudian"

Sesungguhnya kepo itu kadang jadi obat ketika lagi 'capek' sama Tembalang dan seisinya. Misal, hasil kepo kita menunjukkan kalau si X ini ternyata baru dinobatkan lolos jadi peserta PIMNAS mengalahkan ratusan bahkan ribuan mahasiswa lainnya. Si Y ternyata sekarang lagi menjalankan bisnis jilbab. Si Z ternyata sekarang jadi berhijab. Mengetahui apa yang telah mereka capai terkadang membuat saya sadar kalau saya, pokoknya, harus berubah semakin baik dari waktu ke waktunya. Jangan mau kalah, paling tidak, sama diri saya yang dulu, yang mungkin pernah lebih baik daripada hari ini. Itu namanya rugi. Berarti saya harus buru-buru sadar keburu saya 'gulung tikar'. #JanganCumaWacanaJeng! Nah, kalau gitu kan berarti kepo-nya jadi bermartabat. Hehe

Senyum di Bumi Rantau

Dalam sebuah forum, seorang teman berkisah tentang adik kelas perempuannya yang sangat ramah. Keramahan membuat dia disayangi penduduk bumi rantau. Bayangkan, pernah ada seorang laki-laki yang meminta alamat kos si adik ke tukang laundry langganannya. Kenapa ? Karena, si laki-laki pernah secara tidak sengaja di-senyum-i si adik. Bahkan, si adik pernah ditawari nasi goreng gratis oleh sesama pembeli (laki-laki) karena melihat wajahnya yang ramah. Syukurlah si adik menolak segala maksud lelaki bergelagat tersebut #ModusEverywhere. Source : http://images2.fanpop.com

Golput Bisa Jadi Kaya, Apa Iya ?

Minggu lalu saya survei lapangan untuk tugas mata kuliah Ekologi Pangan dan Gizi ke daerah Tambak Lorok, semacam kampung nelayan di daerah Semarang. Saya perhatikan, jumlah pamflet partai dan para calon legislatif banyak bertebaran disini. Lebih banyak dibanding jalan-jalan besar yang sebelumnya saya lewati. Bahkan, lebih banyak dibanding yang bertebaran di sepanjang jalan menuju kampus. #MulaiMikir