Langsung ke konten utama

Postingan

Tata Tahun 2000

Waktu SD, aku punya teman namanya Ma'rifah Larasati. Entah gimana ceritanya, ada temanku yang waktu itu masih sulit ngeja, nulis nama "Larasati" jadi "Tatasi". Meski awalnya temanku itu diejek habis-habisan, tapi sampai saat ini nama "Tata" malah kita pakai untuk manggil "Laras". Enam tahun bareng, akhirnya kita pisah pas SMP. Sejak saat itu aku nggak pernah ketemu Tata lagi. Sampai akhirnya tahun 2009/2010 pas penerimaan siswa baru, di lapangan SMAN 4, aku liat sosok yang nggak asing,  "Tataaa!!!!" Dia adalah Tatasi-ku tahun 2000.

Mella Mahasantai

Mella terniat bawain kita kacamata. Oktober 2016, aku lulus kuliah S1. Beberapa bulan setelahnya, aku dapet kerja. Alhamdulillah . Akan sangat kurang ajar kalau aku masih bisa ngeluh. Lega? Pasti. Tapi, sebagai orang yang selalu-mikirin-apapun, ada hal lain di pikiranku. Ini bobotnya besar banget: Teman-temanku belum lulus. Mella, salah satunya. "Mel, kapan lulus?" Awalnya kalimat itu selalu aku, dan mungkin beberapa orang lainnya, tanyain ke Mella. Reaksi dia cuma ketawa sambil bilang "nggak tau nih" . Jeng, sadar, pertanyaan tentang "Kapan" sama sekali nggak membantu Mella. Coba diganti jadi "Mel, apa yang bisa aku/kita bantu biar kamu bisa lulus tahun depan?" . Oke, aku coba. Jawabnya? Masih "nggak tau." Aku nggak menanyakan itu sekali-dua kali. Berkali-kali bahkan sampe Mella bosen sendiri. Tapi jawaban dia masih selalu, "nggak tau, jeeng".  Mella pernah tiba-tiba nangis di McD gara-gara aku tanya "Ke...

Bu, Pak, Ajeng Sempro!

Kamu mau apa ? / Ini pak, saya cuma mau ngasih revisian kuesioner. / Cuma…cuma… / Eh iya enggak pak…enggak cuma… Sempro ya. Senin atau Selasa. / Oh iya, pak. / Kalau nggak ada panggilan dari Dekan. / *lemes* Ini jadi nggak yak Sempro ? Kalau nggak ada panggilan Dekan ? 2 Mei hari pendidikan ? Aaak ! *nggak bisa tidur* Kamu udah ngingetin bapaknya ? / Belum / Itu kemarin Nina minta bimbingan Senin, kata bapaknya nggak bisa karena harus ke Pasca. / *langsung line bapaknya* *cuma di read* *nggak dibales sampai hari H* Loh mbak, mbak disini ? Ini ruangan udah saya pinjem. / Kamu udah ngisi buku di depan ? / Saya udah ngurus di Unit Skripsi. Peminjamannya disana. Mba udah ? / Saya kan bukan skripsi. Magister / Kamu mau apa ? Sidang ? / Saya Sempro / Ini mau Semhas / *Senior selalu benar* Bapaknya belum dateng-dateng ? / Belum / *Kalau nggak ada panggilan Dekan* Maksud kamu apa Sempro nggak bilang-bilang !!! Ya jahat aja Sempro nggak bilang-bilang. Aku sedih dia nggak cer...

Bukan Jual Gorengan

Jeng, mau pesen buku dong. Buat kapan ? Besok. Dikira jual gorengan -.- -- Jeng, kok mahal banget.. Maunya berapa ? Sepuluh ribu. Belum desain-nya yang beda-beda, belum maunya yang cepet-cepet. Laundry aja yang kilat harganya mahal -.- -- Jeng, mau pesen lagi. Kamu yakin ? Kan di aku harganya mahal. Eh iya juga. Makasih ya, jeng. -- Jeng, mau pesen lagi. Buat kapan ? Sejadinya aja, jeng. Oke, minggu ke-dua Mei ya ! Lama banget jeeeng… -- Jeng, mau pesen dong. Desainnya gimana ? Terserah kamu jeng, yang menggambarkan aku.

Selebrasi

Dulu, ada yang pernah bilang kalau kita ini kebanyakan selebrasi. Dari mulai seminar proposal sampai sidang akhir semuanya dirayain. Balon, boneka, selempang, bunga, sampai bakul jajanan. Setiap anak datang-bawa-berikan-foto-lalu sebarluaskan. Ya nggak salah, itu hak . Tapi, rasanya gimana ya kalau kita ada di akhir ‘giliran’ ? Di saat mereka yang dulu kita rayain udah balik ke kampung halaman, sementara kita masih berjuang untuk menemukan suatu awalan. Pada akhirnya nanti, ada nggak ya yang menyambut kita di luar ruangan ? #ngarep

Ubukubuk : Cerita Bukubukuan

Dari dulu sebenarnya aku suka nulis. Nulis di buku temen – waktu dianya nggak ada. Nulis di tangan temen – waktu dianya tidur di kelas. Nulis di meja – waktu mau ulangan fisika (pernah doang kok, nggak sering #ngeles). Terus dulu punya cita-cita mau masuk buku pelajaran sejarah. Tapi, nggak kesampean karena nggak nemu-nemu dimana pintunya. Ya udah aku ganti cita-cita buat masuk buku sendiri aja alias bikin buku sendiri. Alhamdulillah , berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong keinginan luhur, akhirnya aku berhasil melahirkan sebuah buku pada tahun 2016 ini :)

Donorojo : Dari Mata Pembaca Suara

Mba, gimana disini, betah ? Wah betah kok, pak, enak ada pantai :D Yaa sengaja kali kita (baca : penduduk) di taruh dekat pantai, biar hilang disapu tsunami hahaha. Pemandangan dari teras belakang rumah singgah kami. Celetuk salah satu bapak yang secara tidak sengaja kami (saya dan kelompok) temui di daerah Kali Semut. Mendengarnya membuat saya tersenyum, getir, mengapa beliau bisa berpikir seperti itu ? Stigma dan diskriminasi, dua hal yang melekat pada Orang Yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK). Karena itu, kah ? Ditolak, dijauhi, dikucilkan. Tidak hanya oleh masyarakat, bahkan keluarga sendiri pun bisa. Salah satu OYPMK (saya lupa namanya) bercerita, ia ditinggal pergi istrinya karena kusta. Namun, di sisi lain kusta berhasil mempersatukan pak Endi (salah satu OYPMK) dengan istrinya. Bu Endi sangat antusias menceritakan pertemuan mereka, suka dukanya membangun keluarga, apalagi pak Endi kini berhasil menjadi PNS berkat kerja kerasnya. “ Saya takut diundang Hitam Putih...